Impulse of My Human Senses

November 16, 2009

Dibalik topeng: Superman vs Batman

Filed under: Latihan Nulis — dekirsh @ 8:07 am

Topeng. Adalah salah satu alat untuk menutupi wajah, ataupun identitas. Berfungsi untuk menutupi jati diri dan atau merepresentasikan diri terhadap imaji tertentu, yang bukan diri qta. Setiap manusia memakai topeng, some people say so.

Ada suatu celetukan dari seorang temanqu tadi malam. Karena di TransTV beberapa waktu lalu sedang marathon film2 tentang superheroes, tiba2 temanqu ini mengajukan suatu pernyataan yang cukup menggelitik. Bagi dia, superheroes sangat lucu. Batman, adalah seorang manusia biasa yang memakai topeng untuk menjadi superhero, sedangkan Superman, adalah seorang superhero yang berpura2 menjadi manusia biasa. Bagi dia, itulah manusia, suka memakai topeng.

Tapi, aq sedikit kurang sependapat dengan temanqu ini. Ada hal yang sangat mendasar yang agak mengganggu pikiranqu. Yaitu mengenai pembedaan yang mana topeng, dan yang mana adalah jati diri. Ketika temanqu ini mengatakan bahwa Batman adalah simbol topeng bagi Bruce Wayne, sedangkan Clark Kent adalah penyamarn sang Superman, darimana qta tahu bahwa Bruce Wayne maupun Superman adalah sebuah jati diri, dan bukan sebaliknya?

Mungkin saja kan, bahwa Superman lebih “merasa” bahwa Clark Kent adalah simbol kemanusiaannya? simbol kedekatannya dengan “dunia normal” ketimbang Superman, yang terkesan super, distinct, dan asing. Atau mungkin saja Bruce Wayne merasa bahwa jiwa Batman lebih merasuk dlaam dirinya karena dia bisa menghirup kekebasan, jauh dari aturan, maupun keterikatan.

Atau, kemungkinan lain yang terpikirkan olehqu adalah, baik Batman maupun Superman, sangat menikmati peran ganda mereka, sehingga menjadi sebuah keterikatan yang tidak bisa dilepaskan. Karena Bruce Wayne tak lengkap tanpa Batman, dan Superman tak puas tanpa Clark Kent. Who knows?

Aq lebih memilih kemungkinan kedua, karena, sulit bagi seseorang untuk menentukan “siapa” sebenarnya dirinya. Seperti apa jati dirimu sebenarnya. Apakah kamu merasa memakai topeng, atau itu hanya ilusi emosional semata karena kamu tak puas dan nyaman dengan hidupmu yang sekarang. Menyalahkan keadaan dan diri sendiri dengan beralasan bahwa “It’s not me.”

Coba pikir lagi, apa benar jati diri itu ada? Apakah Batman akan hidup tanpa Bruce Wayne? Apakah Superman akan bahagia tanpa Clark Kent? Apakah kamu bisa hidup tanpa alter egomu? Apakah kau memakai topeng?

*arsip tulisan dari FB (15 Juli 2009)

Newstainment, apa bedanya dengan infoteinment?

Filed under: Latihan Nulis — dekirsh @ 8:05 am

Manusia indonesia, termasuk diriku sendiri, tak bisa lepas dari keberadaan televisi. Sejak maraknya kemunculan stasiun TV swasta, perkembangan dunia media elektronik menjadi sangat pesat. Dari hal yang berhubungan dengan pemberitaan, hiburan, maupun pendidikan. Lambat laun, televisi yang awalnya hanya merupakan saran hiburan waktu luang, malah menjadi objek candu bagi penggemarnya. Para ibu terhipnotis oleh cerita sedih nan menegangkan sinetron2 prime time, para capak termanjakan dengan siaran olahraga live yang ragamnya semakin bertambah juga anak2 dengan macam2 kartun yang tayang setiap hari (bukan cuma hari minggu seperti waktu aq kecil dulu).

Dari pesatnya perkembangan dunia pertelevisian, tak ayal, persaingan ketat pun terjadi. Salah satu yang paling terasa adalah di dunia berita. Semenjak reformasi dielu2kan pada tahun 98, kebebasan pers tak lagi dikungkung, seperti di jaman Orde Baru, dan kreativitas para jurnalis dkk menjadi lebih bisa terlihat. Apalagi sejak lahirnya MetroTV, sebuah stasiun TV yang menggunakan news sebagai trade marknya. Seni Penyajian berita dan juga penarasiannya menjadi suatu hal yang sangat signifikan untuk menarik para pemirsa agar tetap stay tune pada channel yang sama. Dan tak mau kalah, stasiun2 TV lain pun berusaha merombak atau menegaskan identitas news mereka dengan image2 masing2m tapi tetap, untuk memikat penonton sebanyak2nya.

Inilah yang kemudian menjadi berbeda. Dahulu, para news reporter cuma butuh wajah yang camera face, wawasan yang luas dan penyajian berita yang lugas dan jelas melalui pelafalan dan pendeskripsian yang pas. Tapi sekarang, keahlian2 itu tak cukup, news reporter juga dituntut untuk bisa entertaining. Mereka jadi bisa bernarasi dengan diksi2 yang nylekit dan juga nada yang bisa menggugah emosi. Bukan begitu saja, bahkan mimik atau ekspresi wajah para news reporter pun juga bisa membantu penggiringan argumen terhadap berita tersebutm bahkan juga bisa berimprovisasi degan partner reportasenya.

Menarik. Tentu saja. Karena itulah inti dari segala bentuk kreativitas itu. Berita dikemas sebaik mungkin, semenarik mungkin agar rating tinggi. Tapi kadang, susah juga ya kalau segala sesuatu dinilai dai rating. Maka keobjektivitasan suatu berita jadi lebih mudah dipertanyakan. Apakah berita memang disajikan fresh from the oven, atau dibumbui dengan isu atau praduga2 tak jelas agar bisa menaikkan minat pemirsa?

Dan karena harus menarik, maka seperti fashion, news pun juga harus tetap up to date, sesuai dengan trend yang berlaku. Bila hari ini yang sedang booming adalah Noordin M. Top, maka dimana2 dan di stasiun TV manapun, akan eksklusif membicarakan kematian si Buronan Nomer Satu itu. Sehari 3x, kalau perlu buat acara khusus untuk membahas berita itu. Itu sih biasa, mungkin, tapi yang lucu, adalah ketika kemudian para artis juga berbondong2 gantian masuk berita. Macam pasha ungu dan mantan istrinyam juga selebritis dadakan seperti Manohara.. Aq benar2 jadi gak mengerti, sebenarnya, apa sih definisi berita itu?

*arsip tulisan dari FB (20 Agustus 2009)

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.