Ketika sudah menikah, maka tentunya ada perbedaan ritme pertemuan dan kebersamaan dengan ketika masih pacaran. Saat sudah menikah, akan lebih banyak kebiasaan dan juga kegiatan sehar-hari yang dilakukan bersama. Dan untuk semakin menambah kemesraan, biasanya waktu yang ada, diluangkan untuk saling bertukar pikiran, bercanda atau saling berbincang tentang kejadian selama seharian.
Dan itu, ternyata susah. Pekerjaan menjadi customer service, membuatqu harus lebih siap sedia atas segala resiko jadwal kerja kantor daripada mengurus suami (padahal kan baru menikah huhuhu). Awalnya pekerjaanqu hanya menuntut 6 hari kerja, dari senin hingga sabtu, dan suami memiliki 5 hari kerja, jadi kami memiliki ritme jam kerja dan aktivitas yang hampir sama sehingga banyak waktu yang bisa diluangkan hanya untuk sekedar makan jagung bakar malam-malam di depan patung Gatotkaca Seraya atau semacamnya.
Begitu website kantorqu sudah mulai soft launching, perbedaan jam kerja mulai terlihat. Hari liburqu tidak lagi menjadi hari sabtu-minggu, melainkan pada hari selasa dan jumat, yang jelas2 jauh berbeda dengan suami. Belum lagi aq harus masuk shift malam 3 kali seminggu sehingga kami jarang bisa meluangkan waktu bersama. Untungnya sat itu, suami masih bekerja di cabang kantornya yang dekat dengan tempat tinggal kami. Jadinya, kami masih sempat untuk sarapan bersama, dan dia juga selalu menyempatkan diri untuk pulang saat makan siang ataupun menjelang aq berangkat kerja (walaupun setelah itu dia akan kembali ke kantor untuk lembur).
Sayangnya, cobaan kami tidak berhenti sampai di situ. Alhamdulillah, suamiqu berhasil mendapatkan proyek di kantornya yang sayangnya mengharuskan dia untuk rela pindah ke cabang kantor di daerah lain. Sedih rasanya melihat suami harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih lambat agar bisa PP ke kantornya dengan mobil transportasi kantor. Keadaan itu mengubah drastis ritme aktivitas kami. Tak ada lagi sarapan dan makan siang bersama, ataupun kegiatan melewatkan hari libur yang bisa dilakukan berdua, karena setiap kali aq libur, dia masuk kerja dan begitu sebaliknya. Frekuensi bertemu pun jadi sangat jarang, karena dia berangkat kerja saat aq tertidur setelah shift malam dan aq pulang kerja saat dia masih tidur pulas.
Bulan puasa kemarin cukup memberikan suasana baru dalam rumah tangga kami. Aq sengaja mengundurkan jam tidurqu agar bisa membangunkan dia makan sahur lalu kami akan melewatkan sahur bersama, dan kebiasaan jelek suamiqu adalah dia sering melewatkan sahur bila tak kutemani. Tapi, sering juga aq sudah sangat kelelahan sehingga aq tak kuat untuk menemaninya.
Ramadhan telah usai, tempo kegiatan kami kembali seperti semula. Ada perasaan jenuh dan juga kesal terhadap resiko pekerjaan karena itu sangat mengganggu frekuensi pertemuan kami. Tapi semuanya sudah menjadi tanggung jawab pekerjaan yang harus kami terima. Sampai kemudian, datanglah musibah itu.
Suatu hari, aq harus shift malam, dan pulang dini hari (sekitar jam 3 pagi) dan aq mengalami pengalaman yang sangat menyeramkan. Sesuatu yang sangat buruk terjadi dan itu sungguh membuat aq trauma. Di titik inilah, kemudian aq berpikir “Cukup. Sudah!”.
Kejenuhanqu akan ritme kerja yang tak menentu, berkurang drastis frekuensi bertemu dengan suami, dan juga kejadian terakhir menjadi sebuah katalis yang cukup untuk membuatqu membuat keputusan drastis. Aq tidak boleh hanya diam begini tanpa mengubah keadaan. Yang pasti, aq harus melakukan sesuatu.
Di saat-saat aq dan suami memiliki jadwal hari kerja dan libur yang berbeda, kami selalu berusaha meluangkan waktu (sesedikit apapun) untuk tetap bisa saling berbincang dan bertukar pikiran. Saat dia lembur misalnya, aq akan menjemput dia untuk meluangkan makan malam bersama, dan esoknya dia akan menjemputqu di dini hari, di waktu semacam itulah kami bisa saling mengobrol tentang pekerjaan, ide, mimpi maupun leleucon. Atau di kala aq kebagian shift pagi, dia akan mengusahakan untuk tidak lembur dan meluangkan malam itu berdua. Entah hanya dengan makan nasi goreng seharga Rp.2.500 atau bermain game di laptop.
Tapi, kadang sesuatu memiliki titik penghabisan. Waktu yang kami miliki untuk bersama memang cukup sempit, tapi kami cukup mensyukurinya dan juga menikmatinya. Walaupun begitu, kejadian yang terakhir, cukup membuatqu tersadar akan resiko yang lebih besar dan lebih menakutkan akan pekerjaanqu, dan yang akhirnya membuat aq menyerah untuk meneruskannya.
Semoga ini memang jalan yang terbaik bagi kami. Amin.
Penyesuaian itu akan dilakukan terus menerus sepanjang usia pernikahan, bahkan sampai salah satu dipanggil Tuhan. Namun yang penting perbaiki komunikasi terus menerus….dan masing-masing dipastikan keamanannya, punya nomor telepon penting yang bisa segera dihubungi dalam keadaan darurat.
Biasanya yang lebih diutamakan adalah tempat kerja isteri, cari rumah kontrakan yang dekat kantor isteri, pikirkan juga angkutan apa yang digunakan untuk pulang pergi ke kantor, apakah cukup aman? Saya juga mengalami di awal perkawinan, saat gaji masih sangat kecil, biaya yang ditanggung lebih besar..suatu ketika tak dapat meneruskan kontrak rumah…dan untung ada saudara sepupu yang meminjamkan rumah, tapi diujung selatan timur Jakarta (padahal sekarang termasuk kota). Perjalanan yang sulit, angkot kalau pagi ngetem, dari pasar jauh….tapi semua harus dijalani.
Dan yang penting..berdoa sebelum pergi dan pulang kantor, menunaikan kewajiban ibadah (sholat) pada waktunya…karena hanya kepada Nya kita berantung dalam keadaan apapun.
Semoga pilihanmu tepat.
Comment by edratna — September 30, 2010 @ 11:13 pm |