wuah… tak sadar ternyata lama juga aq tidak mengisi blog ini.. sebuah rutinitas dan kesibukan baru hampir saja menyita seluruh otak dan waktuqu, sehingga aq sudah lama tak menulis apapun.
Oke.. back to topic. Sudah hampir beberapa bulan ini aq tinggal di Pulau dewata. Nope, it’s not a vacation. Definisi tinggal berarti saya (untuk sementara dan untuk jangka waktu yang belum bisa dipastikan) berada di pulau ini, hidup, bernafas, makan, bekerja dan melakukan kegiatan semacamnya.
Bila banyak orang berpikir bahwa Bali adalah pulau yang indah. Well, I will not blame their opinion. Pertama kali yang masuk dalam otakqu mengenai imaji Pulau Bali adalah sebuah pulau yang penuh dengan eksotisme dan tempat2 yang mempesona. Dan semua bayanganqu ternyata perlahan buyar seiring dengan waktu yang kujalani di daerah Kuta.
Seandainya aq adalah seorang wisatawan, bali adalah tempat yang paling tepat, karena memang penuh dengan objek wisata yang sangat menarik dan juga pemandangan yang indah. Akan tetapi, sebagai seorang pekerja dan pemukim baru di daerah ini, maka Kuta (atau Kabupaten Badung) tak begitu beda dengan kota-kota lain di Jawa (maaf, pengetahuan saya baru sampai wilayah Jawa saja).
Daerah kontrakan dan kos-kosan yang padat dan penuh gang kecil dan sampah, jalan2 tidak mulus dan berkelok2, kemacetan, dan juga warung2 kecil yang berjajar dimana2 membuat “secuil wajah” yang tidak terlalu beda dengan pemukiman padat manapun. Di sudut yang lain, penuh dengan restauran mahal, hotel2 mewah dan juga butik2 bergaya menjadi sebuah pemandangan yang sangat kontras.
Mungkin itulah kelebihan Pulau Bali. Bisa memoles dirinya begitu elok dimata wisatawan, tetapi masih menyisakan tempatnya untuk pendatang di sudut kota yang lain. Bisa menjadi pusat hiburan dan kesenangan bagi pelancong, juga menawarkan bagian rejeki bagi perantau.
Tentu saja pandanganqu tidak bisa dibilang objektif, karena ini blog pribadiqu, jadi boleh dong mengungkapkan uneg2 hehehe…
Yeah, paling tidak aq bisa mendapatkan hidup yang “normal disini”, bekerja 5 hari dalam seminggu dan dalam 2 hari libur bisa mencicipi wisata kuliner dan juga wisata pantai nya sepuasnya (dengan catatan budget bulanan masih mencukupi
)
So, that’s bali in my point of view, what about yours?
aku pernah ke bali lho..hahaha..
tapi cuma beberapa hari, itupun banyak kegiatan indoor-nya. ehm, bali memang indah, pantainya luar biasa..dataran tingginya, tempat2 ibadahnya. tapi ya itu, sebagai orang Indonesia, aku sudah kehilangan Bali sebagai Indonesiaku. entahlah, kadang terlihat artifisial, semacam paket produk untuk wisatawan asing pemuja keunikan, tapi bkn tempat yg nyaman buat orang lokal kaya’aku.
oya, aku pernah ngobrol sama salah satu penduduk sana waktu kegiatan itu, ternyata cybernetic theory itu benar..bahwa banyak banget hal2 sampe yg berbau spiritual itu bs kebeli di Bali. dia cerita, sebuah upacara, yg biasanya diadakan di waktu2 tertentu, bisa diadakan kapan saja, kalo ada turis yg mau liat. trus kesakralannya gimana?, itulah, agak bikin ilfeel.
ternyata pemukimannya padat dan ada sampah ya? padahal kupikir Bali itu bersih banget ^-^
Comment by ika diyah candra — July 28, 2010 @ 3:53 am |
Yeah.. memang di daerah2 yang dimaksudkan sebagai objek wisata memang ada petugas kebersihannya, tetapi kan ada juga jeung daerah2 yang menjadi pusat pemukiman para perantau. Cenderung tidak terlihat mencolok, tetapi ketika sudah masuk ke gang2 kecil, akan terlihat sama saja seperti pemandangan perkampungan padat penduduk di kota2 lain.
Yang berbau spiritual bisa kebeli di Bali? Well, I have no right to justify it, karena toh aq masih baru disini, belum benar2 mengerti tatanan desa dan juga prosesi2 penting. Tapi, yang aq tahu, disini memang di khususkan bagi wisatawan, artinya, you have to prepare a lot of money to spend your holiday in Bali. Nothing is free (as far as I know).
Untuk mendapatkan KTP di Kuta aja harus bayar tiga juta rupiah loh…
Comment by dekirsh — July 28, 2010 @ 10:50 am |